M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Banjir terparah dalam satu dekade melanda Bali, menewaskan sembilan orang dan merusak infrastruktur. Hujan ekstrem, drainase buruk, dan alih fungsi lahan jadi penyebab utama. Kerugian ditaksir ratusan miliar, evakuasi dan penanganan masih berlangsung.
Intinya… Banjir terparah dalam satu dekade melanda Bali, menewaskan sembilan orang dan merusak infrastruktur. Hujan ekstrem, drainase buruk, dan alih fungsi lahan jadi penyebab utama. Kerugian ditaksir ratusan miliar, evakuasi dan penanganan masih berlangsung.
Banjir besar yang melanda Bali pada Rabu, 10 September 2025, disebut sebagai yang terparah dalam satu dekade terakhir. Intensitas hujan yang sangat tinggi sejak Selasa malam memicu luapan sungai dan genangan parah di berbagai wilayah, termasuk Denpasar, Jembrana, Gianyar, Tabanan, dan Klungkung. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, sebanyak sembilan orang telah dinyatakan meninggal dunia akibat peristiwa ini. Lima korban ditemukan di Denpasar, dua di Jembrana, dan satu masing-masing di Gianyar dan Karangasem.
Kepala BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menyatakan bahwa hujan ekstrem diperparah oleh sistem drainase yang buruk dan dampak pembangunan infrastruktur yang mengganggu aliran air. Banyak saluran air tidak mampu menampung volume curah hujan tinggi, terutama di area permukiman padat. Gelombang atmosfer ekuatorial Rossby disebut sebagai pemicu utama cuaca buruk, menurut BMKG Wilayah III Denpasar. Gelombang ini meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara masif di wilayah tropis, termasuk Bali.
Di Denpasar, 43 titik banjir teridentifikasi, dengan wilayah terparah di Pasar Kumbasari dan Jalan Pura Demak. Sejumlah bangunan runtuh, kendaraan rusak, dan akses jalan utama seperti Teuku Umar Barat dan Sunset Road tergenang parah. Di Jembrana, banjir menyebabkan jalur utama Denpasar–Gilimanuk lumpuh total sepanjang dua kilometer. Tim SAR mengevakuasi lebih dari 200 orang di seluruh wilayah terdampak, sementara fasilitas umum seperti underpass dan pasar terendam dan tidak bisa digunakan.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menjanjikan kompensasi kepada pedagang yang kehilangan barang dan properti, terutama di Pasar Kumbasari. Ia menegaskan bahwa kerugian akan ditanggung bersama antara APBD Provinsi dan APBD Kota Denpasar. Namun, warga menyuarakan keprihatinan atas lambatnya bantuan, seperti diungkapkan Tasha, warga Denpasar Barat, yang menyebut belum menerima bantuan sama sekali meski mengalami kerugian material besar.
Dari sisi ekonomi, banjir ini ditaksir menyebabkan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah. Menurut ekonom Universitas Udayana, Amrita Nugraheni Saraswaty, kerugian tidak hanya berasal dari kerusakan properti, tetapi juga hilangnya aktivitas perdagangan, pariwisata, serta waktu produktif warga. Hari Raya Pagerwesi yang jatuh pada hari yang sama pun menjadi simbol ironis dari musibah ini, saat warga harus menghadapi bencana di tengah momen spiritual penting.
Kritik mulai diarahkan ke pemerintah daerah atas lemahnya mitigasi terhadap banjir skala kecil yang kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Masifnya alih fungsi lahan, minimnya ruang terbuka hijau, serta pembangunan yang mengabaikan batas sempadan sungai disebut sebagai penyebab struktural. Para ahli mendesak adanya langkah konkret seperti reboisasi daerah resapan air, pelestarian sungai, dan pembenahan sistem drainase terpadu.
Banjir besar ini menjadi peringatan keras bahwa Bali, sebagai destinasi wisata utama dunia, membutuhkan perencanaan tata ruang yang lebih berkelanjutan. Penanganan bencana tidak cukup hanya dengan respons saat krisis, tetapi perlu dimulai dari hulu: pengendalian pembangunan, partisipasi masyarakat, serta penguatan sistem peringatan dini. Jika tidak ditangani serius, banjir serupa dapat terulang dengan dampak yang lebih besar di masa depan.


