Menurut Michael Studivan dari University of Miami, frekuensi pemutihan kini terlalu sering sehingga periode pemulihan alami karang “tidak lagi terjadi”. Sementara Prof. Michael Kingsford dari James Cook University menegaskan bahwa kondisi katastropik ini bukan ancaman masa depan, melainkan peristiwa yang sedang terjadi. Terumbu karang kini menghadapi gangguan yang lebih parah dan lebih sering dari sebelumnya.
Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa bahkan jika suhu global distabilkan pada 1,5°C di atas tingkat pra-industri, sebagaimana ditargetkan dalam Perjanjian Paris 2015, sebagian besar terumbu karang tetap akan hilang. Untuk mempertahankan karang “dalam skala bermakna”, suhu perlu diturunkan kembali mendekati 1°C, yang hanya dapat dicapai dengan mengeluarkan karbon dioksida dari atmosfer. “Kematian massal terumbu karang hangat sudah berlangsung,” kata Prof. Tim Lenton dari University of Exeter.
Dampak dari kehancuran ini jauh melampaui ekologi laut. Lebih dari 500 juta orang di dunia bergantung pada karang untuk pangan, perlindungan pantai, dan ekonomi pesisir. Di Australia, industri wisata Great Barrier Reef menghasilkan lebih dari A$9 miliar per tahun, sementara di Asia Tenggara, kerugian ekonomi akibat kerusakan karang dapat mencapai US$115 miliar. “Kita telah mendorong sistem ini melampaui batas kemampuannya,” ujar Dr. Mike Barrett dari WWF-UK.
Namun, beberapa ilmuwan menilai belum semua harapan hilang. Prof. Peter Mumby dari University of Queensland berpendapat bahwa sebagian karang mungkin mampu beradaptasi hingga suhu 2°C, meskipun ekosistemnya akan sangat berubah. Ia memperingatkan agar masyarakat tidak menyerah karena masih ada peluang untuk memperlambat kehancuran melalui pengelolaan lokal dan pengurangan emisi yang agresif.
Sementara itu, Dr. Tracy Ainsworth dari International Coral Reef Society menyebut bahwa dunia sedang menyaksikan “restrukturisasi besar-besaran ekosistem laut.” Ia menilai bahwa masa depan karang bukan sekadar kehancuran, melainkan transformasi, di mana manusia harus memastikan bahwa sistem laut baru tetap dapat menopang kehidupan dan komunitas pesisir.
Selain terumbu karang, laporan tersebut memperingatkan bahwa sistem Bumi lainnya seperti lapisan es Greenland dan Antartika, arus laut Atlantik (AMOC), dan hutan hujan Amazon kini juga semakin mendekati titik balik berbahaya. Jika pemanasan global mencapai 1,5°C dalam dekade ini, perubahan besar yang tidak dapat dibalik kemungkinan akan menyebar ke berbagai sistem iklim lainnya.
Meski situasi tampak suram, para ilmuwan juga menyoroti “titik balik positif” yang sedang muncul seperti percepatan transisi ke energi bersih, kendaraan listrik, dan teknologi penyerapan karbon. “Kita punya pengetahuan,” kata Manjana Milkoreit dari University of Oslo. “Yang kita butuhkan adalah tata kelola global yang mampu bergerak secepat krisis yang kita hadapi.” Dalam pandangan mereka, nasib terumbu karang dan stabilitas iklim global kini bergantung pada tindakan manusia dalam dekade ini.
[…] global ini membantu riset iklim, ekosistem laut, serta mitigasi perubahan iklim. Mengikuti artikel kami mengenai kenaikan suhu laut, mungkin muncul pertanyaan di benak kita, sebenarnya bagaimana […]