M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Perang di Timur Tengah mendorong harga minyak melampaui asumsi APBN, mengancam defisit fiskal dan mendorong pemerintah mengamankan pasokan energi alternatif.
Intinya… Perang di Timur Tengah mendorong harga minyak melampaui asumsi APBN, mengancam defisit fiskal dan mendorong pemerintah mengamankan pasokan energi alternatif.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah masih menghitung dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap APBN 2026, menyusul perang antara AS-Israel dan Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026. Harga minyak kini telah melampaui asumsi makro APBN sebesar 70 dolar AS per barel, dengan harga aktual menyentuh 78–80 dolar AS per barel.
Setiap kenaikan satu dolar harga minyak mentah Indonesia berpotensi menambah belanja negara sebesar Rp10,3 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi, sementara penerimaan negara hanya bertambah Rp3,6 triliun, meninggalkan defisit sekitar Rp6,7 triliun per satu dolar kenaikan, menurut Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso.
Bahlil memastikan stok BBM nasional saat ini mencukupi untuk 23 hari, melampaui standar minimum nasional 21 hari, meski kapasitas penyimpanan energi nasional hanya mampu menampung pasokan maksimal 25–26 hari. Pemerintah kini tengah melakukan studi kelayakan untuk membangun fasilitas penyimpanan berkapasitas tiga bulan di Sumatera.
Merespons penutupan Selat Hormuz yang menanggung sekitar 20 persen perdagangan minyak global, pemerintah mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna menjamin ketersediaan pasokan, sekaligus menyiapkan opsi serupa untuk LPG yang selama ini 30 persennya dipasok dari kawasan tersebut.


