Mobil Dinas Rp8,5 M Kaltim Berujung Dibatalkan

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Pengadaan mobil dinas Rp8,5 miliar oleh Gubernur Kaltim dibatalkan setelah menuai kritik luas. Pemerintah pusat menilai kebijakan itu tidak efisien, sementara masyarakat mendorong anggaran dialihkan ke kebutuhan publik yang lebih mendesak seperti infrastruktur dan layanan dasar.
 
Polemik pengadaan mobil dinas Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, senilai Rp8,5 miliar kini berujung pembatalan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim memastikan proses administrasi pengembalian kendaraan tersebut telah diselesaikan, meski sebelumnya menuai kritik luas dari publik dan pemerintah pusat.
 
Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal menjelaskan bahwa pengadaan dianggap tuntas secara administratif karena kendaraan belum pernah digunakan. Dari total anggaran Rp8,49 miliar, pihak penyedia hanya menerima sekitar Rp7,5 miliar, sementara sisanya merupakan pajak seperti PPN dan PPh yang telah masuk kas negara. Saat ini, Pemprov Kaltim tengah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Pajak untuk proses pengembalian dana tersebut.
 
Sebelumnya, kebijakan ini disorot karena dinilai tidak sejalan dengan semangat efisiensi anggaran yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pernyataannya, Prabowo menyinggung adanya kepala daerah yang menganggarkan hingga Rp8 miliar untuk mobil dinas, di tengah kebutuhan pembangunan yang lebih mendesak.
 
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto juga mengingatkan agar pembelian kendaraan dinas dilakukan secara wajar dan sesuai kebutuhan, bukan sekadar memenuhi aspek formal. Kritik serupa datang dari DPR yang menilai kebijakan tersebut tidak sensitif terhadap kondisi fiskal daerah.
 
Di sisi lain, Rudy Mas’ud sebelumnya beralasan bahwa kendaraan dinas diperlukan untuk menunjang aktivitas representatif, terutama karena Kalimantan Timur merupakan lokasi Ibu Kota Nusantara yang sering menerima tamu nasional dan internasional. Ia menilai fasilitas yang memadai penting untuk menjaga citra daerah.
 
Namun, masyarakat menilai anggaran tersebut lebih baik dialokasikan untuk infrastruktur seperti perbaikan jalan, sekolah, atau fasilitas kesehatan. Pembatalan ini pun dianggap sebagai langkah korektif di tengah tuntutan efisiensi dan prioritas kebutuhan publik.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...