M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran menghambat pelayaran global, termasuk kapal Pertamina. Insiden penembakan kapal memperparah situasi, sementara ketegangan geopolitik memicu ketidakpastian energi dunia dan menahan ratusan kapal di jalur strategis tersebut.
Intinya… Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran menghambat pelayaran global, termasuk kapal Pertamina. Insiden penembakan kapal memperparah situasi, sementara ketegangan geopolitik memicu ketidakpastian energi dunia dan menahan ratusan kapal di jalur strategis tersebut.
Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran menutup jalur strategis tersebut hanya beberapa jam setelah sempat dibuka. Penutupan ini berdampak langsung pada lalu lintas kapal, termasuk dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang sebelumnya telah bersiap melintas.
Sebelumnya, Iran membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026) setelah tercapainya gencatan senjata di kawasan Timur Tengah. Menyikapi peluang tersebut, PIS segera menyiapkan rencana pelayaran aman bagi kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang masih berada di wilayah Teluk Persia. Persiapan mencakup penyusunan rute, identifikasi risiko, hingga koordinasi dengan otoritas terkait, termasuk Kementerian Luar Negeri RI.
Namun, kondisi berubah cepat. Pada Sabtu (18/4/2026), Iran kembali menutup Selat Hormuz dengan alasan Amerika Serikat dianggap melanggar komitmen terkait kebebasan navigasi. Penutupan ini bahkan disertai insiden keamanan, di mana setidaknya dua kapal dagang dilaporkan terkena tembakan saat mencoba melintas. Kapal-kapal tersebut akhirnya berbalik arah demi keselamatan.
Penutupan kembali jalur ini memicu ketidakpastian global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menangani sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia. Dampaknya langsung terasa pada pasar energi, yang sebelumnya sempat merespons positif dengan turunnya harga minyak setelah pembukaan sementara.
PIS menyatakan tetap mengutamakan keselamatan awak kapal dan keamanan muatan di tengah situasi yang belum stabil. Hingga kini, ratusan kapal masih tertahan di kawasan tersebut, menunggu kepastian kondisi geopolitik dan keamanan jalur pelayaran.


