M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Komisi Eropa menyelidiki penggunaan konten penerbit dan kreator oleh Google untuk AI Overview. Fitur ini mengalihkan trafik hingga 50%, memicu kekhawatiran media dan kreator. Google membantah, sementara hasil penyelidikan dapat menentukan masa depan ekosistem AI dan pencarian.
Intinya… Komisi Eropa menyelidiki penggunaan konten penerbit dan kreator oleh Google untuk AI Overview. Fitur ini mengalihkan trafik hingga 50%, memicu kekhawatiran media dan kreator. Google membantah, sementara hasil penyelidikan dapat menentukan masa depan ekosistem AI dan pencarian.
Google kembali menjadi pusat perhatian regulator global setelah Komisi Eropa membuka penyelidikan antitrust terkait bagaimana perusahaan menggunakan konten dari penerbit web dan kreator YouTube untuk menggerakkan layanan AI seperti AI Overview dan AI Mode. Penerbit dan kreator diduga tidak mendapatkan kompensasi yang layak, sementara opsi untuk menolak penggunaan konten mereka juga tidak tersedia tanpa risiko kehilangan trafik dari Google Search, yang menjadi sumber pengunjung utama bagi banyak media.
Penyelidikan ini bertepatan dengan transformasi besar Google yang terjadi diam-diam dalam pengalaman pencarian. Menurut data Advanced Web Ranking, pada November 2025 Google telah menampilkan AI Overview dalam lebih dari 60% pencarian, melonjak drastis dari 13% pada Maret. Artinya, Google kini telah berubah menjadi “AI answer engine” bagi mayoritas pengguna tanpa mereka sadari, mengalihkan pola pencarian dari tautan tradisional menuju jawaban langsung berbasis AI.
Penerbit menyuarakan kekhawatiran bahwa AI Overview mengurangi jumlah klik ke situs mereka secara drastis. Daily Mail melaporkan penurunan trafik dari Google hingga 50% sejak fitur AI tersebut hadir, sebuah lonjakan penurunan yang mengancam keberlangsungan media berbasis iklan. Kampanye seperti Foxglove bahkan mendesak Uni Eropa untuk menyediakan opsi opt-out segera, memperingatkan bahwa banyak media kecil bisa gulung tikar sebelum penyelidikan selesai.
Kreator YouTube juga menghadapi masalah serupa. Konten yang mereka unggah diduga digunakan Google untuk melatih model AI generatif tanpa kompensasi tambahan, sementara mereka wajib menyetujui penggunaan data sebagai syarat unggah konten. Ed Newton-Rex dari Fairly Trained menyebut kondisi ini sebagai “career suicide”, karena kreator tidak punya pilihan selain menyerahkan karya mereka untuk digunakan AI yang pada akhirnya dapat menyaingi mereka sendiri.
Di sisi lain, dunia pemasaran melihat sisi berbeda dari perubahan ini. Agensi seperti The Show and Tell Agency menyatakan bahwa AI Overview tidak mengubah perilaku pencarian justru Google yang mengubah mesin pencarian menjadi mesin jawaban berbasis AI. Menurut mereka, optimasi untuk AI Overview pada dasarnya sama dengan SEO tradisional, sehingga bisnis hanya perlu menyesuaikan strategi, bukan membangun ulang dari nol. Bagi banyak pemasar, ini justru memudahkan adopsi AI dalam strategi digital.
Namun Komisi Eropa menilai bahwa terlepas dari manfaat AI, inovasi tidak boleh terjadi dengan mengorbankan prinsip keadilan dan persaingan sehat. Wakil Presiden Eksekutif Teresa Ribera menegaskan bahwa penyelidikan ini penting untuk memastikan Google tidak memberlakukan syarat tidak adil bagi penerbit dan kreator, serta tidak merugikan pengembang AI lain yang tidak dapat menggunakan data YouTube sebagai bahan pelatihan.
Google membantah melakukan praktik antipersaingan, menyatakan bahwa penyelidikan ini berisiko menghambat inovasi dan perkembangan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat Eropa. Namun di tengah tekanan regulasi dan perubahan besar dalam perilaku pencarian, hasil penyelidikan ini dipandang dapat membentuk masa depan ekosistem AI, industri media, dan cara masyarakat mengakses informasi secara global.


