Rupiah Tertekan, Dolar AS Berpotensi Sentuh Rp18.000

Tempo

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Analis memprediksi rupiah masih tertekan dan berpotensi menembus Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Pelemahan dipicu faktor domestik dan eksternal, serta berisiko meningkatkan inflasi, biaya produksi, ancaman PHK, dan menekan daya beli masyarakat.
 
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pelemahan rupiah berlanjut hingga awal pekan depan, bahkan berpotensi menyentuh Rp18.200 jika level Rp18.000 berhasil ditembus.
 
Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.874 per dolar AS. Menurut Ibrahim, pelemahan tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga berbagai persoalan domestik yang memengaruhi kepercayaan pasar. Ia menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah, pergantian Menteri Keuangan, keputusan MSCI yang memicu gejolak pasar, hingga pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang dinilai menambah ketidakpastian di kalangan investor.
 
Selain itu, memburuknya defisit transaksi berjalan Indonesia turut menjadi faktor yang menekan rupiah. Pada kuartal I-2026, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah berisiko menimbulkan dampak berantai terhadap perekonomian. Kenaikan nilai dolar akan membuat harga barang impor dan bahan baku produksi menjadi lebih mahal. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya produksi sehingga pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual kepada konsumen.
 
Bhima juga memperingatkan bahwa tekanan terhadap sektor usaha, khususnya industri padat karya yang bergantung pada bahan baku impor, dapat memicu efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Di sisi lain, masyarakat berpotensi mengalihkan simpanannya ke dolar AS untuk menjaga nilai aset, yang justru dapat memperdalam pelemahan rupiah.
 
Menurutnya, kelompok masyarakat menengah ke bawah menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, penurunan daya beli, serta risiko meningkatnya pengangguran dan kemiskinan apabila pelemahan rupiah terus berlanjut.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...