M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Rupiah turun mendekati harga Rp18.000 per dolar AS dipicu konflik AS-Iran yang memanas, modal asing kabur, dan permintaan dolar tinggi di dalam negeri.
Intinya… Rupiah turun mendekati harga Rp18.000 per dolar AS dipicu konflik AS-Iran yang memanas, modal asing kabur, dan permintaan dolar tinggi di dalam negeri.
Rupiah kembali tertekan hingga nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026 di pasar keuangan Indonesia. Per Rabu (3/6/2026), dolar AS sudah menguat ke Rp17.960, naik dari penutupan Selasa di Rp17.839. Pelemahan ini dipicu kombinasi konflik AS-Iran yang belum reda, keluarnya dana asing, dan tingginya kebutuhan dolar domestik.
Bank Indonesia langsung angkat bicara dan menegaskan mereka aktif hadir di pasar untuk jaga stabilitas rupiah. Mulai 2 Juni 2026, BI membatasi pembelian valas tanpa underlying maksimal USD25.000 per orang per bulan sebagai rem darurat. BI juga makin gencar dorong transaksi pakai mata uang lokal lewat skema LCT (Local Currency Transaction) bersama China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan UEA untuk mengurangi ketergantungan dolar.
Konflik AS vs Iran yang saling serang tanpa kesepakatan damai membuat harga minyak mentah dunia melonjak, dan langsung terasa di pasar keuangan Indonesia. Di sisi dalam negeri, dana asing banyak yang keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia. Ditambah dengan permintaan dolar yang tinggi untuk bayar utang luar negeri semakin membuat tekanan terhadap rupiah.
Analis Lukman Leong dan Ariston Tjendra sama-sama mengungkapkan level Rp18.000 masih sangat mungkin ditembus kalau eskalasi di Timur Tengah terus terjadi. Lukman menyebut masih ada ruang pelemahan lebih dari 100 poin dari posisi saat ini. Satu-satunya harapan: negosiasi damai AS-Iran bisa kembali berjalan, Jika tidak Rupiah akan terus kembali melemah.


