IHSG Terkoreksi ke 7.344, Sentimen Tarif Dagang Jadi Perhatian

Republika

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… HSG ditutup melemah 0,72% ke 7.344,73 pada Selasa (22/7/2025), terseret aksi profit taking. Saham BRPT dan TPIA dari grup Prajogo Pangestu jadi penekan utama. Meski ada kekhawatiran pasar, IHSG masih berpotensi menguat ke level 7.500.
 
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,72% atau 53,4 poin ke level 7.344,73 pada perdagangan Selasa (22/7/2025). Sebanyak 379 saham tercatat melemah, sementara 220 saham menguat dan 200 saham stagnan. Nilai transaksi hari ini mencapai Rp19,78 triliun dengan volume perdagangan 30,81 miliar saham.
 
Mayoritas sektor berada di zona merah, kecuali utilitas dan energi yang masing-masing mencatat kenaikan sebesar 2,21% dan 0,22%. Pelemahan IHSG terutama diseret oleh saham-saham grup konglomerasi Prajogo Pangestu, seperti Barito Pacific (BRPT) yang turun hampir 8% dan berkontribusi pada pelemahan 11,8 poin IHSG. Selain itu, Chandra Asri Pacific (TPIA) juga anjlok lebih dari 5%, menekan indeks sebesar 11,25 poin. Saham Aneka Tambang (ANTM) dan Solusi Sinergi Digital (WIFI) turut menjadi penyumbang pelemahan, dengan WIFI tercatat sebagai saham dengan transaksi terbanyak sebesar Rp1,6 triliun meskipun harganya turun 4,07%.
 
Para analis pasar menilai koreksi ini sebagai fenomena wajar setelah kenaikan beruntun selama 11 hari. Menurut pandangan ahli, pelemahan lebih disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) investor ketimbang adanya sentimen negatif baru di pasar. Secara teknikal, indeks dinilai masih memiliki potensi untuk melanjutkan penguatan menuju level resistance di 7.500.
 
Di sisi kebijakan, program Koperasi Desa/Kelurahan yang baru diluncurkan pemerintah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai potensi peningkatan kredit macet di perbankan BUMN. Sementara itu, perkembangan eksternal seperti kebijakan moneter Bank Sentral China dan pembicaraan tarif dagang AS-Indonesia turut mempengaruhi dinamika pasar.
 
Meski mengalami koreksi kemarin, prospek IHSG ke depan masih dianggap positif seiring tetap kuatnya optimisme pasar domestik. Para ekonom menyoroti bahwa pelemahan rupiah belakangan ini lebih disebabkan faktor teknis dan tidak mencerminkan melemahnya fundamental ekonomi.
 
Disclaimer: Berita ini disusun berdasarkan sumber terpercaya dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...