Korban Jiwa Berjatuhan di Perang Thailand-Kamboja

CNN Indonesia

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Thailand dan Kamboja kembali terjerat konflik bersenjata di wilayah perbatasan, menewaskan sedikitnya 33 orang dan memaksa lebih dari 100.000 warga sipil mengungsi.
 
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja memuncak pada 24 Juli 2025, dengan bentrokan militer di wilayah perbatasan yang disengketakan. Kedua negara saling tuduh memulai serangan, mengakibatkan puluhan korban jiwa dan ribuan pengungsi. Konflik ini berakar pada sengketa wilayah, terutama terkait Kuil Preah Vihear, yang telah berlangsung sejak era kolonial.
 
Konflik ini dipicu oleh sengketa wilayah yang telah berlangsung puluhan tahun, terutama terkait Kuil Preah Vihear. Ketegangan semakin memanas setelah pembocoran percakapan pribadi antara pemimpin Kamboja dan mantan Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra. Insiden ini merusak hubungan kedua negara yang sebelumnya sudah rapuh.
 
Dan puncaknya pagi hari tanggal 24 Juli 2025 menjadi momen kritis pecahnya konflik terbuka. Pukul 07.35 waktu setempat, pasukan Thailand yang berjaga di Candi Ta Muen mendeteksi keberadaan drone Kamboja di wilayah udara mereka. Kurang dari satu jam kemudian, sekitar pukul 08.20, enam tentara Kamboja bersenjata lengkap – termasuk yang membawa granat RPG – mendekati pagar kawat berduri di pos Thailand. Setelah peringatan lisan dari pihak Thailand diabaikan, pasukan Kamboja melepaskan tembakan pertama yang memicu baku tembak.
 
Pertempuran antara Thailand dan Kamboja terus berlanjut meski upaya diplomasi telah dilakukan. Presiden AS Donald Trump turun tangan dengan menelepon langsung pemimpin kedua negara untuk mendorong gencatan senjata. Kamboja menyambut baik usulan ini dan menyatakan kesediaannya untuk menghentikan pertempuran tanpa syarat. Namun, Thailand menegaskan bahwa dialog harus didahulukan sebelum gencatan senjata bisa diberlakukan.
 
Di tingkat regional, ASEAN di bawah pimpinan Malaysia juga aktif menyerukan perdamaian. Sayangnya, upaya-upaya ini belum membuahkan hasil konkret, karena pertempuran masih terjadi hingga 27 Juli. Korban jiwa terus berjatuhan, dengan total 33 orang tewas, termasuk warga sipil. Lebih dari 100.000 warga Thailand dan 1.500 keluarga Kamboja terpaksa mengungsi akibat serangan artileri dan roket yang menghancurkan infrastruktur sipil di perbatasan.
 
Mediasi AS dan ASEAN berpotensi meredakan ketegangan, tetapi ketidakpercayaan antara pemimpin Thailand dan Kamboja menjadi penghalang utama. Meski risiko perang terbuka dinilai rendah karena keterbatasan militer kedua negara, eskalasi lokal masih mungkin terjadi. Dampak kemanusiaan yang serius, termasuk korban jiwa dan pengungsian massal. Tanpa penyelesaian yang komprehensif, sengketa ini berpotensi terus berulang di masa depan.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...