Talas: Menanggapi Surplus Produksi Beras Indonesia

Sebaran sentiment dari berbagai news platform menurut talas.news

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Klaim Presiden Prabowo Subianto mengenai surplus produksi beras nasional pada sidang tahunan MPR RI pada 15 Agustus 2025 disampaikan secara opositif oleh berbagai media. Talas.news mengukur tanggapan berbagai media sebagai oposisi dikarenakan dominasi pemberitaan tentang "serakahnomics" dari Presiden Prabowo dan Ketua DPR RI, Puan Maharani.
 
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa saat ini para petani di Indonesia merasa senang karena harga gabah stabil dan penghasilan mereka meningkat.
 
Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI yang berlangsung di Jakarta pada 15 Agustus 2025, Prabowo menyatakan bahwa produksi beras di Indonesia mengalami surplus, dengan stok cadangan beras nasional mencapai lebih dari 4 juta ton, yang merupakan capaian tertinggi dalam sejarah negara. Ia juga menekankan bahwa Indonesia kini dapat kembali mengekspor beras dan jagung setelah puluhan tahun.
 
Selain itu, Prabowo menyoroti fenomena "serakahnomics," sebuah istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan praktik manipulatif dalam ekonomi yang merugikan masyarakat, terutama dalam konteks kelangkaan minyak goreng meskipun Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar.
 
Puan Maharani, Ketua DPR RI, juga menyinggung istilah ini dalam pidatonya, menekankan perlunya penegakan hukum yang tegas untuk mengatasi eksploitasi sumber daya alam dan keadilan sosial.
 
Akibat dari sentimen negatif dari istilah "serakahnomics" tersebut, talas.news membaca berbagai sentimen oposisi dari media. Bahkan media yang biasanya berkoalisi kepada pemerintah dalam penyampaiannya, kali ini terbaca sebagai oposisi.
 
Talas.news pun menghimpun berbagai kemungkinan pemberitaan ini ditanggapi masyarakat.
 
Dari sisi Liberal, Puan Maharani menyoroti adanya eksploitasi oleh segelintir masyarakat yang memanfaatkan kelebihan mereka untuk mengeksploitasi rakyat dan sumber daya alam. Ia menyebutkan bahwa banyak individu dari berbagai kalangan, seperti petani dan tenaga kesehatan, bekerja keras, namun di sisi lain, ada praktik bisnis manipulatif yang merugikan. Puan mengaitkan fenomena ini dengan istilah "serakahnomics" yang digunakan oleh Prabowo, menekankan bahwa perilaku serakah ini merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menyerukan perlunya transformasi ekonomi dan keadilan sosial yang nyata serta penegakan hukum yang tegas.
 
Dari sisi Konservatif: Prabowo Subianto memperkenalkan istilah "serakahnomics" untuk menggambarkan keserakahan dalam sektor ekonomi, menyoroti bahwa banyak pihak yang tidak jera mencuri kekayaan negara. Ia menyatakan bahwa fenomena ini merupakan mazhab baru dalam ekonomi yang tidak ada dalam buku atau universitas ilmu ekonomi. Prabowo menekankan kekayaan luar biasa yang dimiliki Indonesia, namun juga mengungkapkan keprihatinan terhadap mereka yang terus melakukan tindakan serakah meskipun telah diberikan peringatan.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...