M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Penjarahan rumah pejabat dan anggota DPR terjadi beruntun, dipicu kemarahan publik atas arogansi pernyataan mereka. Pengamat menilai ini tanda kevakuman kepemimpinan, sementara ekonom memperingatkan potensi krisis multidimensi jika instabilitas sosial politik terus berlanjut.
Intinya… Penjarahan rumah pejabat dan anggota DPR terjadi beruntun, dipicu kemarahan publik atas arogansi pernyataan mereka. Pengamat menilai ini tanda kevakuman kepemimpinan, sementara ekonom memperingatkan potensi krisis multidimensi jika instabilitas sosial politik terus berlanjut.
Aksi penjarahan terhadap rumah pejabat dan anggota DPR mengguncang Jakarta sejak Sabtu (30/8) hingga Minggu (31/8/2025). Ratusan massa menggeruduk rumah tiga legislator Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya serta kediaman yang disebut milik Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Kronologi bermula ketika massa mendatangi rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka menjarah kursi, lemari, jam tangan, uang, hingga berangkas berisi dolar. Mobil mewah di garasi pun dirusak. Aksi ini disiarkan langsung di TikTok, lalu memicu massa lain bergerak ke rumah Eko Patrio di Setiabudi dan Uya Kuya di Duren Sawit. Bahkan, kucing peliharaan Uya ikut dijarah.
Ketiganya menjadi sasaran kemarahan publik usai pernyataan yang dianggap arogan. Sahroni menyebut pihak yang ingin membubarkan DPR sebagai “orang tolol”. Eko Patrio dikecam setelah mengunggah parodi joget, sementara Uya Kuya menilai anggota DPR layaknya artis yang pantas berjoget di media sosial.
Pengamat politik Vidhyandika Djati Perkasa menilai aksi ini mencerminkan kevakuman kepemimpinan dan arogansi pejabat, mengingatkan pada krisis 1998. Ekonom Bhima Yudhistira memperingatkan, ketidakstabilan politik dan ekonomi dapat berubah menjadi krisis multi-sektor yang menekan rupiah, investasi, hingga lapangan kerja.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan negara wajib hadir, meminta aparat menindak tegas penjarahan, namun juga mendorong DPR berdialog dengan tokoh masyarakat dan mahasiswa. Sementara partai NasDem dan PAN menonaktifkan Sahroni, Eko, dan Uya dari kursi DPR mulai 1 September.
Kerusuhan meluas ke berbagai daerah, dari Makassar hingga Cirebon, dengan gedung DPRD dibakar dan korban jiwa berjatuhan. Situasi ini memperlihatkan ketidakpuasan rakyat yang meluas terhadap elite politik di tengah kesenjangan ekonomi yang makin tajam.


