M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… IHSG ditutup melemah 1,21% ke 7.736,07 pada Senin (1/9/2025), tertekan sentimen kerusuhan domestik. Sebanyak 557 saham turun, dengan sektor teknologi dan finansial memimpin pelemahan, sementara kesehatan menguat.
Intinya… IHSG ditutup melemah 1,21% ke 7.736,07 pada Senin (1/9/2025), tertekan sentimen kerusuhan domestik. Sebanyak 557 saham turun, dengan sektor teknologi dan finansial memimpin pelemahan, sementara kesehatan menguat.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,21% atau 94,42 poin ke level 7.736,07 pada perdagangan Senin (1/9/2025). Pelemahan yang dipicu sentimen negatif kerusuhan domestik ini menyebabkan 557 saham tercatat turun, hanya 185 yang naik, dan 214 stagnan. Meski demikian, otoritas bursa dan pelaku pasar tetap optimistis bahwa aliran dana asing (inflow) akan kembali seiring dengan fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid dan proyeksi global yang membaik.
Tekanan jual yang luas menjadi penyebab utama pelemahan IHSG. Mengutip data Refinitiv, sektor teknologi menjadi penyumbang penurunan terdalam dengan merosot 3,08%, disusul oleh sektor finansial yang anjlok 1,75%. Hanya sektor kesehatan yang bertahan di zona hijau dengan penguatan 1,5%. Saham PT Digital Capsule Corporation Indonesia (DCCI) menjadi pemberat indeks terbesar dengan kontribusi minus 19,5 poin setelah harganya ambruk 5,31%. IHSG juga diseret oleh saham-saham perbankan besar seperti Bank BRI (BBRI) yang menyumbang -14,83 poin, Bank Mandiri (BMRI) -10,5 poin, Bank BCA (BBCA) -7,14 poin, dan Bank Resona Perdania (BREN) -4,74 poin.
Menanggapi kondisi pasar, Anggota Dewan Komisioner OJK, Inarno Djajadi, menyerukan kepada investor untuk tetap bijak dan berinvestasi berdasarkan fakta fundamental, bukan rumor. OJK juga menegaskan kebijakan fleksibilitas buyback saham tanpa RUPS masih berlaku untuk membantu menstabilkan pasar. Di sisi lain, manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI) menyuarakan optimisme. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menyatakan keyakinannya bahwa dana asing yang keluar pekan lalu akan kembali masuk. Keyakinan ini didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya masih kuat, dibuktikan dengan derasnya inflow saat rebalancing indeks MSCI dan FTSE beberapa waktu lalu.
Pelemahan hari ini mengingatkan pada beberapa momen tekanan historis IHSG, seperti anjlok 11,95% pada 8 Januari 1998 di tengah krisis moneter dan turun 10,37% pada 8 Oktober 2008 akibat krisis keuangan global. Yang terbaru, IHSG juga pernah merosot 7,9% pada 8 April 2025 sebagai respons atas kebijakan tarif impor Presiden AS kala itu, Donald Trump. Meski diterpa sentimen negatif domestik, keyakinan akan kekuatan fundamental ekonomi dan prospek global menjadi pondasi optimisme bagi pemulihan IHSG ke depan. Investor diharapkan tetap tenang dan melakukan investasi berdasarkan analisis yang mendalam serta data faktual.


