Ekspor Udang RI ke AS Terpapar Radioaktif

Tempo

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Udang beku ekspor Indonesia dari PT Bahari Makmur Sejati ditolak AS usai FDA mendeteksi cesium-137. Pemerintah lakukan inspeksi, dugaan pencemaran dari peleburan baja sekitar pabrik. Udang segar masyarakat dipastikan aman, ekspor dihentikan sementara.
 
Ekspor udang beku asal Indonesia ditolak Amerika Serikat setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menemukan dugaan kontaminasi radioaktif cesium-137 (Cs-137) pada produk dari PT Bahari Makmur Sejati (BMS), Serang, Banten. Meski kadar yang terdeteksi 68,48 Bq/kg jauh di bawah ambang batas 1.200 Bq/kg, FDA tetap menarik produk dari pasar sebagai langkah pencegahan.
 
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan inspeksi dilakukan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Selama proses ini, ekspor udang BMS ke AS dihentikan sementara. Pemerintah juga berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Washington guna membahas kasus tersebut.
 
Peneliti BRIN, Djarot Sulistio, menjelaskan Cs-137 biasanya dihasilkan dari reaktor nuklir dan jarang ditemukan pada pangan. Kontaminasi bisa berasal dari lingkungan industri, peralatan, atau kontainer pengiriman. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menambahkan dugaan awal cemaran berasal dari peleburan baja di sekitar pabrik BMS. Lokasi tersebut kini telah dilokalisasi untuk investigasi lebih lanjut.
 
Kepala Dinas LHK Banten, Wawan Gunawan, memastikan udang segar yang dikonsumsi masyarakat tetap aman karena tidak mungkin terpapar radioaktif secara alami. “Aman untuk konsumsi, pencemaran hanya mungkin terjadi di lingkungan industri,” tegasnya.
 
Sementara itu, ritel besar Walmart menarik produk terdampak di 13 negara bagian AS dan memberikan pengembalian dana penuh bagi konsumen. Pemerintah Indonesia menegaskan kasus ini menjadi evaluasi agar standar keamanan pangan ekspor semakin diperketat ke depan.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...