M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal resmi akui Palestina, disambut warga Palestina namun ditolak keras Israel. Kini 145 negara anggota PBB mengakui Palestina, menandai perpecahan besar di blok Barat.
Intinya… Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal resmi akui Palestina, disambut warga Palestina namun ditolak keras Israel. Kini 145 negara anggota PBB mengakui Palestina, menandai perpecahan besar di blok Barat.
Sebuah pergeseran diplomatik bersejarah terjadi pada Minggu (21/9/2025) ketika empat negara Barat sekutu Amerika Serikat yaitu Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal secara resmi mengakui kedaulatan Negara Palestina. Keputusan yang diumumkan menjelang Sidang Majelis Umum PBB ini memicu reaksi keras dari Israel, yang bersumpah untuk menggagalkan berdirinya negara Palestina, sementara di sisi lain disambut sebagai kemenangan moral dan penegasan eksistensi oleh warga Palestina yang terdampak perang.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa pengakuan ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian dan solusi dua negara. Pernyataan senada disampaikan oleh pemimpin Australia, Anthony Albanese, yang menyebut langkah ini sebagai pengakuan terhadap "aspirasi sah dan lama rakyat Palestina untuk memiliki negara mereka sendiri ."
PM Kanada Mark Carney menawarkan kerja sama untuk membangun masa depan yang damai, sedangkan Portugal menegaskan komitmennya terhadap solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi.
Namun, langkah diplomatik ini langsung ditanggapi dengan kecaman tajam dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menyebut pengakuan tersebut sebagai hal yang "absurd" dan "membahayakan keberadaan Israel," seraya bersumpah bahwa tidak akan ada negara Palestina yang berdiri di sebelah barat Sungai Yordan. Sebagai balasan, Netanyahu berjanji akan memperluas permukiman Yahudi di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel sejak 1967. Amerika Serikat, sekutu utama Israel, juga mengkritik langkah keempat negara sekutunya itu dengan menyatakan bahwa fokus mereka tetap pada "diplomasi yang serius, bukan gestur performatif."
Bagi Palestina, pengakuan ini merupakan momen penting yang memperkuat legitimasi perjuangan mereka. Presiden Mahmoud Abbas memujinya sebagai "langkah penting dan perlu untuk mencapai perdamaian yang adil dan abadi." Di Gaza, warga seperti Salwa Mansour (35) menyatakan bahwa pengakuan ini memberi secercah harapan, menunjukkan bahwa dunia mulai mendengar suara mereka di tengah penderitaan, kematian, dan pembantaian yang mereka alami.
Dengan bergabungnya keempat negara ini, kini sedikitnya 145 dari 193 negara anggota PBB telah mengakui Palestina. Yang strategis, Inggris dan Kanada adalah anggota pertama Grup Tujuh (G7) yang mengambil langkah ini, menandai perpecahan signifikan di blok negara-negara Barat yang selama ini solid. Perang di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina disebut-sebut sebagai faktor pendorong utama yang mengubah peta diplomasi dan meningkatkan tekanan publik terhadap pemerintah negara-negara Barat untuk bertindak. Meski bersifat simbolis, pengakuan ini menempatkan Palestina dan Israel dalam posisi yang lebih setara di forum hukum internasional dan menjadi tamparan diplomatik bagi Israel, membuka peluang bagi bertambahnya dukungan global lainnya.


