M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Tren “cewe butuh pasangan setara” makin populer. Riset menunjukkan laki-laki sering merasa terancam bila pasangannya lebih sukses, sementara perempuan tidak. Karena itu, kesetaraan karier, visi, dan ambisi penting agar hubungan lebih sehat.
Intinya… Tren “cewe butuh pasangan setara” makin populer. Riset menunjukkan laki-laki sering merasa terancam bila pasangannya lebih sukses, sementara perempuan tidak. Karena itu, kesetaraan karier, visi, dan ambisi penting agar hubungan lebih sehat.
Tren “Cewe nggk cuma butuh sayang, tapi harus cari pasangan yang setara!” Menjadi salah satu topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di kalangan anak muda. Dalam memilih pasangan, perempuan sering kali dihadapkan pada nasihat klasik: “cari cowo yang penting sayang dan cintanya lebih besar”. Namun, saat ini mulai bermunculan opini yang menyatakan bahwa perempuan harus mencari yang setara. Setara yang dimaksud bukan hanya soal rasa, tetapi juga setara baik dari sisi pendidikan, karier, hingga ambisi. Opini tersebut bukan hanya sebuah tren baru semata, namun hal ini menjadi kebutuhan nyata yang faktanya sudah divalidasi oleh penelitian.
Penelitian yang dilakukan oleh Ratliff dan Oishi menunjukkan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk merasa iri atau tersaingi jika pasangannya lebih sukses secara karir atau sosial (seperti lebih dikenal atau memiliki status sosial yang lebih tinggi). Bahkan terkadang laki-laki secara “tidak sadar” bahwa mereka iri terhadap pasangannya. Menariknya, ketika dilakukan tes sebaliknya pada perempuan, yaitu ketika laki-laki memiliki posisi karir atau sosial yang lebih tinggi, mereka tidak ada merasa insecure atau iri terhadap pasangan lelakinya. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Salah satu penjelasannya adalah karena laki-laki umumnya lebih kompetitif dibandingkan perempuan, sehingga mereka lebih mudah menafsirkan kesuksesan pasangan sebagai tanda bahwa dirinya kurang baik. Hal ini didukung oleh hasil penelitian ini yang menyebutkan bahwa laki-laki merespons kesuksesan pasangan seolah-olah itu berarti kegagalan relatif bagi dirinya.
Ada juga alasan lain, yaitu harga diri sering dikaitkan dengan peran gender. Laki-laki secara stereotip dianggap harus kuat, kompeten, dan cerdas. Para ahli berpendapat bahwa sifat kompetitif laki-laki berasal dari kombinasi budaya patriarki, faktor evolusi, dan perbedaan biologis. Akibatnya, kegagalan dalam memenuhi peran gender (seperti harus mandiri, unggul, dan lebih baik dari orang lain) bisa membuat harga diri laki-laki menjadi terganggu. Jadi, ketika pasangan perempuannya sukses, hal itu bisa dianggap sebagai sebuah “ancaman” bagi harga dirinya.
Sedangkan, perempuan lebih sering menganggap orang terdekat (seperti pasangannya) merupakan bagian dari dirinya. Selain itu, perempuan juga cenderung lebih menonjolkan sifat sosial atau kebersamaan. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa perempuan lebih peduli untuk menjaga keharmonisan sosial. Oleh karena itu, keberhasilan orang terdekat (seperti pasangan) t idak dianggap mengancam harga diri bagi perempuan.
Penelitian tersebut membuktikan bahwa mencari “pasangan yang setara” merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh seorang perempuan. Ketika terdapat ketidaksetaraan antara laki laki dan perempuan, baik dari segi visi misi, ambisi, karir, ataupun sosial maka hal ini dapat memunculkan peluang terjadinya konflik yang lebih besar. Perempuan sejatinya memiliki naluri untuk “ingin membantu pasangannya”, yang justru ternyata sikap ingin membantu ini kerap kali dianggap sebagai sikap controlling terhadap laki-laki (terutama jika perubahan tidak berasal dari inisiatif laki-laki itu sendiri). Dan hal itu akan semakin diperparah jika laki-laki memiliki ego yang lebih dominan. Oleh karena itu, jika kalian merasa merupakan seorang perempuan high achiever yang dominan atau ambisius, carilah pasangan yang punya visi misi dan ambisi yang setara dengan kalian.
Created by : Baiq Ayu Rahmawati


