M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Ilmuwan kembangkan komputer dari sel otak manusia yang bisa belajar seperti AI, tapi masih terkendala daya tahan dan etika.
Intinya… Ilmuwan kembangkan komputer dari sel otak manusia yang bisa belajar seperti AI, tapi masih terkendala daya tahan dan etika.
Para ilmuwan di Swiss dan Australia tengah mengembangkan teknologi biocomputing, yaitu komputer yang dibuat dari sel otak manusia. Inovasi ini memanfaatkan jaringan neuron hidup yang mampu belajar dan beradaptasi layaknya otak manusia, sekaligus berpotensi menghemat energi dibandingkan komputer silikon konvensional.
Laboratorium FinalSpark di Swiss menciptakan “organoid” atau mini-otak dari sel punca kulit manusia yang dihubungkan dengan elektroda agar dapat merespons perintah sederhana. Sementara itu, tim di Australia berhasil melatih jaringan neuron untuk memainkan game klasik Pong, membuktikan kemampuan sel otak untuk belajar melalui rangsangan listrik.
Meskipun menjanjikan, biocomputing masih menghadapi tantangan besar. Organoid belum memiliki pembuluh darah untuk mempertahankan fungsinya dalam jangka panjang, dan setiap unit berperilaku berbeda satu sama lain. Saat ini, organoid hanya mampu bertahan hingga empat bulan dan belum bisa menggantikan prosesor dengan basis silikon secara luas.
Para peneliti menekankan bahwa komputer hidup bukan untuk menggantikan teknologi AI berbasis silikon, melainkan melengkapinya sambil membuka peluang baru bagi riset medis, seperti uji obat yang lebih manusiawi tanpa hewan percobaan. Namun, kemajuan ini juga memunculkan dilema etika baru terkait kesadaran dan potensi rasa sakit pada jaringan hidup yang digunakan.


