M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Repan, remaja Baduy Dalam, jadi korban begal di Jakarta Pusat dan ditolak rumah sakit karena tak punya KTP dan BPJS. Kasus ini menyoroti kesenjangan akses layanan kesehatan bagi masyarakat adat yang hidup di luar sistem administrasi negara.
Intinya… Repan, remaja Baduy Dalam, jadi korban begal di Jakarta Pusat dan ditolak rumah sakit karena tak punya KTP dan BPJS. Kasus ini menyoroti kesenjangan akses layanan kesehatan bagi masyarakat adat yang hidup di luar sistem administrasi negara.
Repan (17), remaja dari komunitas adat Baduy Dalam, menjadi korban pembegalan saat berjualan madu dan aksesori khas Baduy di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat, Minggu (26/10/2025) dini hari. Ia mengalami luka serius di tangan setelah diserang empat pelaku yang mengendarai dua sepeda motor. Para pelaku merampas uang Rp3 juta, satu ponsel, dan 10 botol madu milik korban.
Namun, persoalan tak berhenti di situ. Ketika Repan dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan, pihak RS menolak memberikan layanan karena ia tidak memiliki KTP dan BPJS. Padahal, sesuai Permenkes No. 47/2018, rumah sakit wajib memberikan layanan medis dalam kondisi gawat darurat tanpa menunggu administrasi.
Kasus ini menyoroti jurang antara sistem kesehatan nasional dan kehidupan masyarakat adat. Warga Baduy Dalam secara turun-temurun menolak penggunaan identitas administrasi negara karena bertentangan dengan prinsip adat. Pemerintah Banten sendiri telah menyesuaikan kebijakan agar masyarakat Baduy tetap mendapat layanan kesehatan tanpa KTP, dengan prosedur pelaporan pascarawat.
Tokoh adat Baduy, Medi, mengecam tindakan kriminal tersebut dan meminta para pelaku segera menyerahkan diri. Ia juga berharap kepolisian menegakkan hukum seadil-adilnya. “Ini pertama kalinya warga kami jadi korban kejahatan di luar wilayah,” ujarnya.
Pihak kepolisian Jakarta Pusat menyatakan tengah memburu para pelaku. Kasus Repan menjadi cermin bahwa meski masyarakat adat sudah berupaya beradaptasi, sistem sosial dan birokrasi Indonesia masih sering gagal mengakomodasi keberagaman cara hidup warganya.


