M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Perebutan takhta Keraton Kasunanan Surakarta kembali memuncak setelah wafatnya PB XIII. Dua pangeran, KGPH Purbaya dan KGPH Hangabehi, sama-sama mengklaim gelar PB XIV. Di tengah dualisme, keraton tetap menggelar jumenengan untuk Purbaya.
Intinya… Perebutan takhta Keraton Kasunanan Surakarta kembali memuncak setelah wafatnya PB XIII. Dua pangeran, KGPH Purbaya dan KGPH Hangabehi, sama-sama mengklaim gelar PB XIV. Di tengah dualisme, keraton tetap menggelar jumenengan untuk Purbaya.
Ketegangan internal Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali mengemuka setelah wafatnya Kanjeng Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi pada 2 November 2025. Kepergian sang raja memicu perebutan takhta antara dua putranya, yakni KGPH Purbaya—putra permaisuri dari istri ketiga—dan KGPH Hangabehi, putra laki-laki tertua dari istri kedua.
Konflik ini mengulang kisruh serupa pada 2004, ketika terjadi dualisme kepemimpinan antara kubu PB XIII Hangabehi dan Tedjowulan. Meski Mahkamah Agung pada 2017 menetapkan PB XIII Hangabehi sebagai pemimpin sah, ketegangan kembali mencuat dalam proses suksesi tahun ini.
Pada 5 November 2025, saat jenazah PB XIII hendak dimakamkan di Imogiri, KGPH Purbaya mengukuhkan diri sebagai PB XIV di hadapan jenazah ayahandanya. Tindakan itu, menurut kakaknya GKR Timoer, dilakukan sesuai paugeran untuk mencegah kekosongan kepemimpinan.
Namun pada 13 November, keluarga besar Keraton Solo yang difasilitasi Maha Menteri KGPA Tedjowulan justru menobatkan KGPH Hangabehi sebagai PB XIV. Mereka berpegang pada paugeran bahwa bila tidak ada permaisuri, pewaris adalah putra laki-laki tertua. Penetapan Purbaya sebagai putra mahkota sebelumnya pun kembali dipersoalkan.
Di tengah tarik-menarik legitimasi, Keraton Surakarta tetap menggelar jumenengan untuk mengukuhkan KGPH Purbaya sebagai PB XIV pada 15 November 2025. Ketua panitia, GKR Timoer, menegaskan seluruh prosesi berjalan sesuai adat, mulai dari pengambilan sumpah di Siti Hinggil hingga kirab keliling Kota Solo menggunakan Kereta Garuda Kencana.
Sejumlah tokoh nasional dan raja-raja Nusantara dijadwalkan hadir, termasuk mantan Presiden Joko Widodo dan Sri Sultan HB X. Prosesi ini diharapkan mempertegas keberlanjutan kepemimpinan Keraton Surakarta meski dualisme klaim takhta masih berlangsung.


