Sinyal The Fed Dongkrak Bursa Dunia

seekingalpha

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed pada Desember melonjak, memicu penguatan pasar saham global. Wall Street dan bursa Asia kompak naik, didorong data ekonomi AS yang melemah dan komentar dovish pejabat Fed.
 
Pasar keuangan global kembali bergerak positif seiring dengan meningkatnya ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan melakukan pemotongan suku bunga ketiga tahun ini pada pertemuan Desember 2025. Optimisme ini didorong oleh sinyal pelemahan ekonomi AS dan komentar dovish dari pejabat senior The Fed.
 
Pada Jumat (21/11/2025), Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan bahwa The Fed dapat menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut akibat melemahnya pasar tenaga kerja yang dinilai sebagai ancaman lebih besar dibandingkan inflasi. Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,75%–4,00%.
 
Berdasarkan alat pantau CME FedWatch, memperkirakan peluang sebesar 79,1% untuk pemangkasan suku bunga pada Desember 2025, naik tajam dari 42,4% sepekan sebelumnya.
 
Efeknya langsung terasa di pasar saham. Wall Street merespons positif dengan reli besar-besaran pada Senin (24/11/2025). Indeks Dow Jones naik 0,65%, S&P 500 melonjak 1,65%, dan Nasdaq Composite bahkan meroket 2,70%, didorong oleh penguatan saham-saham teknologi dan AI.
 
Di Asia, sentimen serupa terjadi. Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,28%, S&P/ASX 200 Australia menguat 1,08%, dan Hang Seng Futures Hong Kong juga menunjukkan kenaikan lebih dari 1%. Hanya pasar Jepang yang tutup karena libur nasional.
 
“Ketika Presiden The New York Fed John Williams menyatakan bahwa pemotongan suku bunga Desember masih terbuka, hal itu memberikan napas lega bagi investor,” ujar Sam Stovall, Chief Investment Strategist CFRA Research, seperti dikutip dari Reuters.
 
Selain Williams, komentar Gubernur The Fed Christopher Waller juga turut mendorong ekspektasi pemotongan suku bunga, meski beberapa pejabat lain masih menyuarakan pandangan yang lebih berhati-hati.
 
Di tengah reli pasar, perhatian juga tertuju pada data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintah AS selama enam pekan. Data pelemahan tenaga kerja dan inflasi yang masih tinggi justru dianggap memperkuat peluang penurunan suku bunga.
 
Musim laporan keuangan kuartal III/2025 juga hampir rampung, dengan 95% perusahaan S&P 500 telah melaporkan hasil. Sebanyak 83% di antaranya mencatat laba di atas ekspektasi, dengan pertumbuhan laba agregat diproyeksikan mencapai 14,7%.
 
Sementara itu, musim belanja liburan AS yang dimulai pekan ini menjadi sorotan berikutnya, di mana National Retail Federation memproyeksikan penjualan untuk pertama kalinya bisa menembus US$1 triliun.
 
Dengan pertemuan The Fed pada 9–10 Desember mendatang, seluruh mata investor akan tertuju pada keputusan suku bunga terakhir di tahun 2025 ini, yang diharapkan menjadi stimulus lanjutan bagi perekonomian global.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...