Intinya… Ketegangan AS–Iran memuncak setelah Presiden Donald Trump mempertimbangkan serangan militer dan Uni Eropa bersiap menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris. Iran menyatakan siap berperang, sementara diplomasi nuklir masih buntu dan risiko konflik terbuka kian besar.
Trump mengulangi ancamannya melalui platform Truth Social, mendesak Iran untuk segera kembali ke meja perundingan guna membahas program nuklirnya. “Waktu hampir habis. Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUAT KESEPAKATAN!” tulis Trump. Ia juga memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan “jauh lebih buruk” dari Operasi Midnight Hammer yang dilancarkan AS pada Juni 2025.
Respons Iran: Siap Berperang Habis-habisan
Merespons ancaman AS, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran siap menghadapi segala bentuk agresi. “Angkatan Bersenjata kami yang gagah berani sudah siap untuk segera dan dengan kuat menanggapi SETIAP agresi,” kata Araghchi dalam pernyataan di media sosial.
Ia menambahkan bahwa Iran telah belajar dari “pengalaman berharga” dalam Perang 12 Hari melawan Israel pada Juni 2025, dan kini lebih siap untuk merespons dengan lebih kuat dan cepat. Iran juga telah memulai latihan militer besar-besaran di Selat Hormuz, menyusul kedatangan kelompok tempur kapal induk AS di kawasan.
Uni Eropa Akan Tetapkan IRGC sebagai Organisasi Teroris
Di tengah ketegangan ini, Uni Eropa dilaporkan akan mengadakan pertemuan para menteri luar negeri di Brussels pada hari ini untuk membahas penetapan sanksi baru terhadap Iran. Langkah ini terutama didorong oleh respons keras Iran terhadap demonstrasi dalam negeri yang telah menewaskan ribuan orang menurut berbagai sumber.
Prancis, yang sebelumnya ragu-ragu, akhirnya menyatakan dukungannya. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan, “Prancis akan mendukung penetapan IRGC sebagai organisasi teroris oleh Uni Eropa.” Dukungan juga datang dari Italia dan Jerman. Namun, keputusan akhir memerlukan kesepakatan bulat dari seluruh anggota Uni Eropa.
IRGC, yang dibentuk setelah Revolusi Islam 1979, memegang peran kunci dalam pertahanan Iran dan pengelolaan program rudal balistik serta nuklir negara itu.
Jalan Buntu Diplomasi Nuklir
Upaya diplomasi nuklir antara AS dan Iran dilaporkan mengalami kebuntuan. Sumber-sumber menyebutkan Trump frustrasi karena Iran menolak tuntutan AS untuk menghentikan pengayaan uranium, membatasi program rudal balistiknya, dan mengizinkan inspeksi lengkap oleh badan pengawas nuklir PBB.
Menteri Luar Negeri Iran Araghchi menegaskan bahwa diplomasi di bawah ancaman militer tidak akan efektif. “Jika mereka mau negosiasi berjalan lancar, tidak boleh ada ancaman, tuntutan berlebihan, dan isu-isu yang tidak rasional,” ujarnya.
Analisis: Risiko Konflik yang Kompleks
Pakar dan pejabat mengakui bahwa meskipun kemampuan militer Iran secara kuantitas dan teknologi dianggap lebih rendah daripada AS, kekuatannya termasuk sistem pertahanan udara, rudal balistik, dan drone tidak dapat diremehkan. Konflik terbuka diperkirakan akan menimbulkan kerugian besar dan konsekuensi geopolitik yang luas.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui kompleksitas operasi terhadap Iran, sementara sumber lain menyatakan bahwa menggulingkan rezim di Teheran bukanlah hal yang mudah, mengingat struktur kekuasaan yang kokoh di Iran.
Dunia menyaksikan salah satu momen paling genting dalam hubungan AS-Iran dalam beberapa tahun terakhir. Dengan ancaman militer yang nyata dari Washington, kesiapan tempur Tehran, dan tekanan diplomatik dari Eropa, situasi ini berpotensi memicu konflik berskala besar jika jalur dialog tidak segera ditemukan. Semua pihak menantikan hasil pertemuan Uni Eropa dan perkembangan lebih lanjut dari Washington dan Tehran.


