M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu dinamika diplomatik global. Putin mendorong solusi diplomatik, Iran menegaskan hak mempertahankan kedaulatan, sementara Trump mengklaim operasi militer terhadap Iran hampir selesai setelah ribuan target militer dihantam.
Intinya… Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu dinamika diplomatik global. Putin mendorong solusi diplomatik, Iran menegaskan hak mempertahankan kedaulatan, sementara Trump mengklaim operasi militer terhadap Iran hampir selesai setelah ribuan target militer dihantam.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan percakapan telepon pada Senin (9/3) waktu setempat untuk membahas eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menyebut percakapan yang berlangsung sekitar satu jam itu dilakukan atas inisiatif Amerika Serikat. Dalam pembicaraan tersebut, kedua pemimpin membahas berbagai isu internasional, termasuk konflik Iran, situasi di Ukraina, dan kondisi politik di Venezuela.
Ushakov mengatakan Putin menekankan pentingnya penyelesaian cepat terhadap konflik Iran melalui jalur politik dan diplomatik. Menurutnya, Rusia telah melakukan sejumlah kontak dengan para pemimpin negara Teluk, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta sejumlah pemimpin lain guna mendorong stabilitas kawasan.
Di sisi lain, Pezeshkian dalam percakapan telepon terpisah dengan Putin menegaskan komitmen Iran untuk mempertahankan kedaulatan negaranya di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Pezeshkian menyebut serangan balasan terhadap pangkalan militer AS bersifat defensif dan bertujuan melindungi keamanan nasional Iran.
Ia juga mengecam tindakan Amerika Serikat dan Israel yang disebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional. Pezeshkian meminta Rusia menggunakan pengaruh internasionalnya untuk mendukung hak Iran dalam menghadapi agresi tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan. Dalam wawancara telepon dengan CBS News, Trump mengklaim militer AS telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran pada minggu pertama operasi yang diberi nama “Operation Epic Fury”.
Trump bahkan menyebut perang melawan Iran “hampir sepenuhnya selesai”, dengan alasan kemampuan militer Iran telah melemah secara signifikan. Meski demikian, Trump menambahkan bahwa berakhirnya perang masih bergantung pada perkembangan situasi dan keputusan berbagai pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.


