M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Prabowo Subianto membawa pulang komitmen investasi Rp575 triliun dari kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan, serta menerima penghargaan The Grand Order of Mugunghwa.
Intinya… Prabowo Subianto membawa pulang komitmen investasi Rp575 triliun dari kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan, serta menerima penghargaan The Grand Order of Mugunghwa.
Presiden Prabowo Subianto menyelesaikan kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan pada 1 April 2026. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, tercatat komitmen investasi senilai USD10,26 miliar atau setara Rp173 triliun yang dihasilkan melalui penandatanganan 10 nota kesepahaman (MoU) dalam forum “Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth”.
Secara keseluruhan, kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan berhasil membawa pulang komitmen investasi sebesar Rp575 triliun. Di Jepang, kesepakatan senilai USD23,63 miliar (sekitar Rp401,71 triliun) dihasilkan melalui forum bisnis dengan para investor dan pengusaha Jepang.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan pentingnya hubungan strategis dengan Korea Selatan dan potensi kerja sama di berbagai sektor, termasuk energi, teknologi, dan industri manufaktur. Kesepakatan ini diharapkan dapat meningkatkan devisa negara, mendorong investasi asing langsung, serta menciptakan lapangan kerja dan penguatan industri nasional.
Selain kesepakatan ekonomi, Presiden Prabowo menerima penghargaan tertinggi Korea Selatan, The Grand Order of Mugunghwa, sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Dalam kunjungan ini, Prabowo juga melakukan pendekatan diplomasi personal yang mencerminkan upaya memperkenalkan budaya Indonesia secara internasional, termasuk memberikan hadiah berupa kerajinan dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) khas Indonesia serta pakaian untuk anjing peliharaan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Berdasarkan analisis platform AI Talas terhadap sejumlah pemberitaan terkait dari Detik, Kompas, dan Antara, diperoleh rata-rata tingkat bias sebesar 52,5% dan rata-rata tingkat hoax sebesar 32,6% dari laporan-laporan yang memiliki data terukur.
Beberapa laporan menunjukkan variasi tingkat akurasi yang cukup lebar. Laporan dengan tingkat hoax tertinggi mencapai 81 persen yang mengindikasikan potensi misinformasi signifikan, sementara laporan lainnya mencatat tingkat hoax serendah 2 persen yang menunjukkan akurasi sangat tinggi. Tingkat ideologi dalam pemberitaan bervariasi antara 15 persen hingga 87 persen, mencerminkan perbedaan sudut pandang editorial masing-masing media dalam menyajikan capaian diplomasi ekonomi Presiden Prabowo.
Kunjungan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor global terhadap Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi dunia serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui realisasi investasi yang telah dikomitmenkan.


