M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Pemerintah meluncurkan program Sekolah Rakyat untuk anak miskin ekstrem tanpa seleksi akademik dan Sekolah Garuda sebagai sekolah inklusif dengan 80% beasiswa penuh, termasuk untuk disabilitas. Kedua program ini mendukung visi Indonesia Emas 2025.
Intinya… Pemerintah meluncurkan program Sekolah Rakyat untuk anak miskin ekstrem tanpa seleksi akademik dan Sekolah Garuda sebagai sekolah inklusif dengan 80% beasiswa penuh, termasuk untuk disabilitas. Kedua program ini mendukung visi Indonesia Emas 2025.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan, Tinggi, Sains, dan Teknologi resmi meluncurkan dua program pendidikan baru, yaitu Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Kedua program ini merupakan bagian dari upaya mencapai visi Indonesia Emas 2025, dengan fokus memberikan akses pendidikan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan keluarga tidak mampu.
Program Sekolah Rakyat ditujukan khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem (desil satu) tanpa melalui seleksi akademik ketat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menjelaskan, program ini bertujuan memberikan afirmasi pendidikan bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan.
“Kalau untuk Sekolah Rakyat itu enggak pakai tes akademik. Yang penting mereka dari desil satu, artinya kelompok miskin dan miskin ekstrem,” ujar Gus Ipul dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (20/5/2025).
Meski tanpa seleksi, Sekolah Rakyat tetap melakukan pemetaan akademik, kesehatan fisik, dan psikologis siswa untuk mengembangkan potensi mereka secara individual. Bahkan, pemerintah mempertimbangkan pendekatan DNA Talenta untuk memahami kekuatan alami setiap anak.
Program ini rencananya akan dibangun di 100 lokasi dengan total 8.850 siswa pada tahun ajaran 2025-2026. Anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 2,3 triliun, mencakup sarana prasarana, kurikulum, dan tenaga pendidik. Namun, anggota Komisi VIII DPR, Ketut Kariyasa Adnyana, mengingatkan bahwa hingga saat ini anggaran tersebut belum disetujui DPR.
Sementara itu, Sekolah Garuda dirancang sebagai sekolah inklusif yang tetap menerapkan seleksi akademik. Wakil Menteri Pendidikan, Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa 80% kuota siswa akan mendapat beasiswa penuh berdasarkan kondisi ekonomi. Program ini juga menyediakan akses bagi penyandang disabilitas, mencerminkan komitmen pemerintah dalam pendidikan yang merata dan berkeadilan.
“Dan secara real ini akan dituangkan di sekolah Garuda baru. Sekolah yang inklusif, sehingga tentu saja kesempatan diberikan pada mereka juga yang disabilitas, sekolah Garuda” jelas Stella dalam media briefing di Jakarta, Sabtu (17/5/2025).
Meski mendapat dukungan, program ini menuai kritik terkait anggaran yang belum disetujui DPR dan cakupan yang dinilai masih kecil dibanding jumlah penduduk miskin di Indonesia (28 juta orang). Anggota DPR menekankan pentingnya pengawasan independen untuk mencegah potensi korupsi.
Pemerintah berharap kedua program ini dapat menghilangkan hambatan struktural dalam pendidikan dan menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2025.


