Israel Kembali Lancarkan Serangan Udara di Tengah Gencatan Senjata

antaranews

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Israel kembali menyerang Gaza meski gencatan senjata masih berlaku, menewaskan sedikitnya dua orang. Israel menuduh Hamas melanggar kesepakatan terkait pengembalian jenazah sandera, sementara Hamas membantah dan menuding Israel sengaja memicu eskalasi.
 
Israel kembali melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza pada Selasa (28/10) malam hingga Rabu (29/10) dini hari, meskipun kesepakatan gencatan senjata masih berlaku. Serangan ini menewaskan sejumlah warga, dengan laporan korban yang bervariasi. Otoritas kesehatan Gaza menyatakan setidaknya dua orang tewas dan empat luka-luka dalam serangan di kawasan Sabra dan dekat Rumah Sakit Al-Shifa. Namun, kelompok Hamas menyebut angka korban tewas mencapai sembilan orang.
 
Badan Pertahanan Sipil Gaza, melalui juru bicaranya Mahmud Bassal, mengonfirmasi bahwa Israel melancarkan setidaknya tiga serangan udara. "Pendudukan kini membombardir Gaza dengan setidaknya tiga serangan udara meskipun ada perjanjian gencatan senjata," ujarnya kepada AFP. Serangan ini merupakan eskalasi terbaru yang mengancam kelangsungan gencatan senjata.
 
Pemicu serangan ini adalah saling tuduh antara kedua belah pihak. Pemerintah Israel, melalui kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengeluarkan pernyataan bahwa serangan dahsyat diperintahkan setelah konsultasi keamanan. Israel menuduh Hamas melakukan pelanggaran serius, khususnya dalam proses pengembalian jenazah sandera. Kementerian Luar Negeri Israel menegaskan, "Hamas berbohong. Mereka tahu di mana para sandera yang tersisa berada," dan menilai hal ini sebagai pelanggaran yang membahayakan gencatan senjata.
 
Sebaliknya, Hamas membantah semua tuduhan Israel. Mereka menyatakan bahwa klaim Israel adalah upaya "tak berdasar" untuk "menyesatkan opini publik". Kelompok tersebut juga balas menuduh Israel sengaja menghalangi upaya pemulangan jenazah dengan mencegah akses alat berat dan tim pencari, termasuk personel Palang Merah, ke lokasi-lokasi kunci di Gaza.
 
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersumpah bahwa Hamas "akan membayar mahal" atas insiden yang ditudingkannya terhadap pasukan Israel. Seorang pejabat militer Israel anonim kepada Reuters menyebut ini sebagai "pelanggaran gencatan senjata yang mencolok lainnya". Di sisi lain, Hamas menegaskan komitmen mereka pada kesepakatan dan menuduh Netanyahu sengaja mencari-cari alasan untuk menghindari kewajiban Israel dalam perjanjian damai.
 
Ketegangan semakin memanas menyusut isu pengembalian jenazah sandera. Netanyahu sebelumnya menuduh Hamas menyerahkan jasad yang salah. Hamas semula berjanji menyerahkan jenazah sandera yang ditemukan di sebuah terowongan, namun sayap bersenjatanya, Brigade Al-Qassam, membatalkannya dengan alasan Israel telah lebih dulu melanggar gencatan senjata. Pencarian jenazah sendiri dilaporkan sangat sulit akibat hancurnya infrastruktur Gaza dari pemboman selama dua tahun terakhir.
 
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Gaza tetap tegang. Kedua pihak terus saling menyalahkan, sementara upaya diplomatik untuk meredakan eskalasi dan menyelamatkan gencatan senjata diperkirakan akan terus berlanjut di tengah ketidakpastian ini.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...