The Fed Pangkas Suku Bunga untuk Dongkrak Pasar Tenaga Kerja AS

validnews

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… The Fed memangkas suku bunga 25 bps ke kisaran 3,5–3,75% untuk menopang pasar tenaga kerja, meski keputusan diwarnai perbedaan pendapat internal.
 
Federal Reserve (The Fed) kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pekan lalu. Ini merupakan pemangkasan ketiga sepanjang 2025, yang membawa suku bunga ke kisaran target 3,5% – 3,75%. Langkah ini diambil untuk mendorong pemulihan pasar tenaga kerja AS yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan, sekaligus menjaga keseimbangan dengan risiko inflasi yang masih ada.
 
Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang diwarnai perbedaan pendapat internal, keputusan ini tidak disepakati secara bulat. Tercatat tiga dari 12 anggota FOMC yang memiliki hak suara menyatakan penolakan (dissent). Dua di antaranya menginginkan suku bunga dipertahankan, sementara satu Gubernur The Fed, Stephen Miran, justru mengusulkan pemotongan lebih dalam sebesar 50 basis poin. Jumlah penentang ini merupakan yang tertinggi sejak 2019, mencerminkan kompleksitas situasi ekonomi yang dihadapi The Fed.
 
“Dengan langkah ini, kebijakan moneter berada pada posisi yang baik saat memasuki 2026,” ujar Presiden The Fed New York, John Williams, dalam sebuah acara di Jersey City, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (16/12/2025). Williams menegaskan bahwa kebijakan saat ini telah dikalibrasi untuk menghadapi dua risiko utama mandat bank sentral: inflasi yang terlalu tinggi dan pelemahan pasar tenaga kerja.
 
Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS akan meningkat menjadi sekitar 2,25% pada 2026, didorong oleh kebijakan fiskal, kondisi keuangan yang kondusif, serta investasi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sementara itu, inflasi diperkirakan turun ke sedikit di bawah 2,5% pada 2026, sebelum mencapai target jangka panjang The Fed sebesar 2% pada 2027.
 
Ketua The Fed Jerome Powell, dalam konferensi pers terpisah, mengakui dilema yang dihadapi bank sentral. “Tidak ada jalan bebas risiko dalam kebijakan saat kita menghadapi ketegangan antara tujuan lapangan kerja dan inflasi,” tegasnya. Powell menjelaskan bahwa mempertahankan suku bunga tinggi berisiko memperburuk pasar tenaga kerja, sementara menurunkannya terlalu agresif dapat memicu kembali tekanan inflasi.
 
Keputusan The Fed ini disambut oleh pergeseran sentimen pasar. Menurut data CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga melonjak menjadi hampir 90% sesaat sebelum pengumuman, jauh meningkat dari sekitar 30% sepekan sebelumnya. Pergeseran ekspektasi ini dipicu oleh sinyal beragam dari data ketenagakerjaan serta pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang membuka peluang pelonggaran.
 
Namun, The Fed tampaknya akan tetap berhati-hati. Baik Williams maupun Powell menegaskan bahwa bank sentral akan terus mengevaluasi data ekonomi sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya pada pertemuan Januari mendatang. Mereka menekankan bahwa posisi kebijakan moneter saat ini sudah bergeser dari sedikit restriktif ke arah yang lebih netral, memberikan fleksibilitas untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi di tahun depan.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...