M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden Xi Jinping di China untuk membahas perang dagang, Iran, dan Taiwan. Pertemuan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas hubungan kedua negara di tengah ketegangan global.
Intinya… Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden Xi Jinping di China untuk membahas perang dagang, Iran, dan Taiwan. Pertemuan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas hubungan kedua negara di tengah ketegangan global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan kunjungan resmi ke Beijing, China, pada Kamis (14/5), untuk bertemu Presiden China Xi Jinping di tengah memanasnya berbagai isu global, mulai dari perang dagang, konflik Iran, hingga ketegangan di Taiwan.
Pertemuan kedua pemimpin berlangsung di Great Hall of the People, gedung kenegaraan utama di Beijing. Agenda tersebut menjadi sorotan internasional karena digelar saat hubungan Washington dan Beijing masih dibayangi rivalitas ekonomi dan geopolitik.
Trump tiba di Beijing pada Rabu (13/5) malam menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One. Kedatangannya disambut Wakil Presiden China Han Zheng bersama prosesi karpet merah dan ratusan pelajar yang membawa bendera kedua negara.
Dalam kunjungan dua hari itu, Trump didampingi sejumlah tokoh bisnis Amerika Serikat, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Tesla Elon Musk. Kehadiran para petinggi perusahaan teknologi itu dinilai menunjukkan besarnya kepentingan ekonomi dalam lawatan tersebut.
Selain menghadiri jamuan makan malam kenegaraan bersama Xi Jinping, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven, salah satu situs bersejarah peninggalan kekaisaran China.
Salah satu isu utama yang dibahas dalam pertemuan itu adalah konflik Iran di Timur Tengah. Trump menyatakan dirinya ingin melakukan pembicaraan panjang dengan Xi terkait Iran, terutama karena sebagian besar ekspor minyak Iran yang terkena sanksi Amerika Serikat dijual ke China.
Pemerintah AS berharap Beijing dapat memainkan peran lebih aktif dalam meredam eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya juga menyampaikan harapan agar China membantu menekan Iran.
Selain konflik Timur Tengah, isu perang dagang kembali menjadi perhatian utama. Hubungan ekonomi kedua negara sempat memburuk setelah Trump memberlakukan berbagai tarif dan pembatasan terhadap produk asal China pada masa pemerintahan sebelumnya.
Ketegangan kembali meningkat usai Trump kembali ke Gedung Putih pada 2025. Namun, kedua negara sempat mencapai kesepakatan gencatan tarif sementara pada Oktober tahun lalu dan kini mempertimbangkan perpanjangan selama satu tahun.
Trump juga mengatakan dirinya ingin mendorong akses yang lebih luas bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di pasar China.
Isu Taiwan turut diperkirakan menjadi pembahasan penting dalam pertemuan tersebut. Trump sebelumnya menyebut akan membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi Jinping, langkah yang dinilai berbeda dari pendekatan tradisional Washington.
Selain Taiwan, kedua negara juga diperkirakan membicarakan pembatasan ekspor rare earth oleh China, persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta hubungan perdagangan bilateral yang terus memanas.
Pemerintah China menyatakan menyambut kunjungan Trump dan siap memperluas kerja sama dengan Amerika Serikat sambil tetap mengelola perbedaan yang ada di antara kedua negara.
Pertemuan ini menjadi lawatan pertama presiden Amerika Serikat ke China dalam sembilan tahun terakhir. Pengamat menilai Washington dan Beijing sama-sama berupaya menjaga stabilitas hubungan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.


