Dolar Terancam menuju 22 ribu, BI Siap Naikkan Suku Bunga

Kael Leather Goods

PukulEnam Newsletter

Bergabunglah bersama ribuan subscriber lainnya dan nikmati berita terhangat yang up-to-date setiap paginya melalui inbox emailmu, gratis!



M.K.S.A (Mager Kepanjangan, Singkat Aja)
Intinya… Nilai tukar Rupiah berpotensi jebol ke angka Rp18.000 per dolar AS di akhir Mei ini, bahkan diproyeksikan bisa terus merosot hingga Rp22.000 jika tekanan eksternal tak kunjung reda. Pelemahan yang sempat menyentuh level Rp17.600 pada Jumat lalu ini dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS (The Fed) dan memanasnya geopolitik. Untuk menahan laju depresiasi yang mengancam APBN lewat bengkaknya subsidi energi, Bank Indonesia (BI) diprediksi kuat bakal mengerek suku bunga acuan pada Juni mendatang.
 
Nilai tukar Rupiah sedang menghadapi ujian yang cukup berat. Jumat lalu (15/5), Rupiah sudah menyentuh level Rp17.600 per dolar AS di tengah libur panjang perdagangan domestik. Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, jika level Rp18.000 tertembus pada Mei ini, maka peluang Rupiah meluncur bebas menuju Rp22.000 menjadi sangat terbuka.
 

Mengapa tekanan ini bisa terjadi dan apa dampaknya bagi ekonomi sehari-hari?

  • Sentimen Global yang Kurang Bersahabat: Dolar AS makin perkasa karena adanya ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang 2026 demi menjinakkan inflasi AS. Ditambah lagi, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat investor lebih memilih mengamankan aset di dolar AS ketimbang di negara berkembang.

  • Keterbatasan Intervensi Saat Libur: Karena pasar domestik tutup pada 14-15 Mei, Bank Indonesia (BI) hanya bisa masuk melakukan intervensi melalui pasar luar negeri (offshore). Harapannya, volatilitas bisa lebih diredam ketika perdagangan di dalam negeri kembali dibuka besok, Senin (18/5).

  • Beban Berat Subsidi Energi: Merosotnya nilai tukar bukan sekadar angka valas di layar. Jika pelemahan menembus Rp18.000 atau lebih, APBN kita akan bekerja ekstra keras untuk menanggung lonjakan biaya subsidi energi dan BBM yang harus diimpor menggunakan dolar.

  • Opsi Kenaikan Suku Bunga (BI-Rate): Sebagai langkah penyelamatan, BI diprediksi tidak akan tinggal diam. Pada pertemuan bulan Juni nanti, ada kemungkinan besar BI akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 hingga 50 basis poin demi menstabilkan nilai tukar Rupiah di pasar.
 
Meskipun volatilitas pasar saat ini sedang tinggi, langkah responsif dari otoritas moneter akan menjadi penentu seberapa kuat kita menahan guncangan ini. Stay alert, mari pantau bersama pembukaan pasar besok, dan pastikan keputusan finansialmu diperhitungkan dengan matang.

Ditulis oleh

Bagikan Artikel

Facebook
X
WhatsApp
LinkedIn
Email
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kamu mungkin juga suka...